KJPL Indonesia


Kreatif Menuju Sekolah Adiwiyata

Malang  | Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tulungrejo 4 Batu menjulang dengan meraih predikat nomor wahid sebagai sekolah berlingkungan sehat dan pelopor lembaga pendidikan dasar yang mengembangkan program lingkungan hidup (Adiwiyata) di Jawa Timur. Demikian image positif yang melekat pada sekolah yang mengantongi rangking satu sekota Batu pada 2010 ini.

Tak sekedar berekspresi dalam kreatifitas, namun SDN Tulungrejo 4 itu sejak awal berdiri tahun 1975 telah menyatu dengan alam yang indah. Berdiri di areal tanah seluas 4947 m persegi dengan luas bangunan 614 m, sekolah ini cukup asri di lereng pegunungan, di sebelah baratnya bertengger keindahan gunung banyak, sedangkan di sebelah utara timur terdapat kekarnya gunung arjuno yang menyuguhkan air panas (wisata cangar). Dari SDN Tulungrejo 4, menatap ke selatan bawah terdapat keindahan pusat Kota Batu dengan lajur jalan indah menuju Kota Malang.

Meski begitu, tak sekedar keindahan dan kebersihan yang menonjol, namun kualitas sekolah sangat menunjang. Yang terakhir, berdasarkan klasifikasi penilaian oleh Dinas Pendidikan Kota Batu, SDN Tulungrejo 4 pada 2010 meraih predikat tertinggi yaitu rangking I se Kota Batu. Bahkan, SDM siswanya sangat membanggakan, seperti Kusti Inriyani dan Nisya Nur Nabila memperoleh rangking 3 dan 6 sebagai siswa terpandai dalam UASBN 2010, sehingga mereka memperoleh beasiswa dari dinas sebesar masing-masing Rp. 2 juta. Begitupun, prestasi non akademik yakni bola voli mini meraih juara 1 se Kota Batu.

Meraih juara satu dalam Lomba Lingkungan Sehat (UKS) se Kota Batu dalam rangka Hari Kesehatan Nasional(HKN) ke-46 pada 3 november 2010 lalu. SDN Tulungrejo 4 layak dan memenuhi berbagai kriteria penilaian yang ditetapkan oleh juri, meski masih banyak yang perlu dibenahi. Menurut Tim Penilai dari Dinas Kesehatan dan Pemkot Batu, kriteria yang dinilai dalam Lomba Lingkungan Sehat meliputi, ruang kelas, ruang kepala sekolah, sarana prasarana, kantin dan ruang UKS. Demikian halnya, sarana sanitasi juga dinilai, meliputi sumber air bersih dan air minum, tempat cuci tangan, kamar mandi dan jamban, pembuangan sampah, pembuangan air limbah.

Kebersihan dan kesehatan ruang kepala sekolah menjadi tolok ukur prestasi penilaian, apalagi kebijakan kasek yang ditelorkan banyak menjadi indikator munculnya SDN Tulungrejo 4 menjadi jawara 1 kota. Tak hanya itu, sekolah ini menjadi pioner dalam penerapan program adiwiyata di Jawa Timur. Program Adiwiyata merupakan salah satu program Kementrian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Disini, SDN Tulungrejo 4 Batu sejak diterapkannya program tersebut akhir 2007, telah meraih prestasi luar biasa. Tercatat pada 2008, menduduki urutan ke-18 dari 190 peserta lomba adiwiyata se Jatim. Kemudian 2009 merangsek ke urutan 10 besar provinsi dan dikirim untuk lomba tingkat nasional. Pada 22 Desember 2010, sekolah berjarak 5 km dari pusat Pemkot Batu ini mengirimkan porto folio adiwiyata untuk lomba se provinsi dan nasional mewakili Kota Wisata Batu.

Predikat lingkungan sekolah sehat versi Dinas Kesehatan Kota Batu juga menjadi indikator dipilihnya SDN Tulungrejo 4 menjadi jawara sekolah berlingkungan sehat dengan salah satu komponennya, UKS, terbaik. Menurut Hayati, ketua tim penilai dari Dinas Kesehatan, bentuk penilaian dalam lomba lingkungan sekolah sehat (UKS), pertama, observasi dan pengamatan adalah salah satu cara penilaian dengan melihat langsung obyek dengan subyek yang dinilai serta mencatat hal-hal atau keadaan yang ada pada instrumen penilaiaan. Kedua, wawancara yaitu penilaian dengan mengadakan tanya jawab kepada responden.

Disamping pembina, guru yang ditanya dan pengamatan lokasi, proses penilaian juga langsung kepada siswa-siswi yang menjadi kader Tiwisada atau dokter kecil yang bertugas di UKS serta kader pengelola kantin. “Mereka kami tanya langsung tentang peran dan aktifitas yang dikerjakan tentang UKS, Kantin serta semua yang berhubungan dengan lingkungan sekolah,” kata Hayati. Tim penilai 5 orang terdiri dari Hayati, Juni, Kasiman, Rina dan Agus Suhartono.

Dalam lomba LSS UKS di SDN Tulungrejo 4, unsur penilaian tersebut telah dilaksanakan. Sejumlah 30 dokter kecil dan beberapa kader di kantin, menceritakan tentang semua aktifitas terkait penilaian tentang LSS UKS dari program lingkungan hidup (Adiwiyata) atau wawasan wiyata mandala.

Sumarti SPd, guru penjasorkes yang juga pembina UKS, menuturkan bahwa para siswa yang menjadi kader tiwisada telah diberi bekal pendidikan kesehatan sebelumnya. Pendidikan tersebut meliputi kesehatan, lingkungan sehat dan pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK). Hal tersebut seperti yang dinilai dalam lomba lingkungan sehat. Namun, dalam proses penilaian pembina tidak ikut campur.

“Mereka langsung menanyakan segala sesuatunya kepada anak-anak sebagai kader tiwisada atau dokter kecil,” tukasnya seraya merinci 30 siswa kader tiwisada di SDN Tulungrejo 4 tersebut, telah sesuai kriteria minimal 10% dari muridnya yang berjumlah 298 siswa. Beberapa pertanyaan dilontarkan kepada dokter kecil secara langsung oleh tim penilai.

Diantaranya, bagaimana pengelolaan sampah, cara membersihkan lingkungan, tentang kesehatan seperti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, cuci tangan dengan sabun, pentingnya hidup bersih. Demikian dalam proses membersihkan lingkungan sekolah, memelihara dan memanfaatkan tanaman toga, serta penilaian tentang PPPK seperti jika ada orang sakit harus pakai obat apa, jika tulang patah harus digendong dan sebagainya.

“Kami ditanya langsung dan menerangkannya secara rinci serta menunjukkan berbagai lokasi yang berhubungan dengan materi,” tukas Cornelia Septiarana dan Adin Ilmia Aprianto, kader tiwisada. Bahkan dia tak merasa canggung menjelaskan tentang fungsi dan peran dokter kecil dalam menjaga kesehatan siswa dan lingkungan sekolah, UKS dan sebagainya. Seperti ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang belajar kelas, ruang perpustakaan, ruang UKS, kantin sekolah, ruang ibadah, serta halaman sekolah.

Cornelia, Adin Ilmia Aprianto dan teman-temannya sebagai dokter kecil mengakui bahwa selama 2 tahun lebih, sejak kelas 4, telah memperoleh pembinaan dari Sumarti SPd, guru penjasorkes sebagai pembina langsung Tiwisada dan kader kantin. Demikian hal dengan kader kantin, Silvi Dewi Purwanti dan Nurul Indahsari mengaku telah mengerti tentang manajemen dan pemeliharaan kesehatan lingkungan di areal kantin berkat bimbingan para guru dan kepala sekolah SDN Tulungrejo 4.

“Bahkan berbagai ilmu tentang kesehatan lingkungan dan manajemen kantin telah kami terapkan di lingkungan rumah dan teman-teman saya di kampung,” aku Silvi. “Kami juga membuat kebijakan yang mewajibkan setiap guru untuk selalu berpartisipasi dalam pemeliharaan lingkungan sekolah dengan mengikutsertakan sosialisasi terus menerus di kelas dalam setiap mata pelajaran,” kilah Soepi’i SPd, kasek SDN Tulungrejo 4 Batu yang selalu menekankan kreativitas untuk perduli lingkungan bersih dan sehat agar ditumbuhkan pada setiap siswa.

Bahkan, melalui kebijakan ini, setiap guru berupaya moving lesson artinya siswa dalam pembelajaran sesekali diajak keliling di tempat-tempat rindang di halaman maupun di belakang sekolah, belajar sembari menatap keindahan pegunungan banyak dan gunung arjuno yang begitu eksotis itu. Dengan begini, setiap siswa sejak dini dapat mencintai lingkungan.

Meski begitu, diakui Soepi’i, dibalik keberhasilan dalam lomba lingkungan sehat, SDN Tulungrejo 4 juga mempunyai kekurangan yang harus dilengkapi guna mencapai lingkungan lebih sempurna. Diantaranya adalah wastafel di UKS, buku pertemuan berkala, buku notulen untuk kegiatan ekstrakulikuler, atap untuk penyempurnaan kantin, serta tanaman toga perlu perawatan intensif terutama harus diberi keterangan tulisan tentang nama dan kegunaan toga tersebut.

Program Adiwiyata

Disamping penerapan program kesadaran untuk perduli lingkungan, program adiwiyata juga diharapkan setiap hari warga sekolah turut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif. Dan SDN Tulungrejo 4 tengah berusaha menjadi tempat yang baik dan ideal dimana dapat menelorkan dan menularkan segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup dan menuju cita-cita pembangunan berkelanjutan.

Sekolah ini memperoleh peringkat tertinggi di Kota Batu dan diperhitungkan di Jawa Timur, karena juga telah memenuhi beberapa indikator penting dalam penerapan program Adiwiyata. Pertama, pengembangan kebijakan sekolah. Indikator ini penilaiannya tinggi yakni mencapai 40%.

Guna mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan, maka siperlukan beberapa kebijakan sekolah, dalam hal ini kepala sekolah, untuk mendukung dilaksanakannya kegiatan pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai prinsip-prinsip dasar program adiwiyata yaitu partisipatif dan berkelanjutan.

Pengembangan kebijakan sekolah tersebut adalah visi misi sekolah yag peduli dan berbudaya lingkungan, kebijakan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran, kebijakan peningkatan SDM tenaga pendidik dan non kependidikan di bidang pendidikan lingkungan hidup, kebijakan dalam upaya penghematan sumber daya alam, kebijakan mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang bersih bdan sehat, kebijakan sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan terkait masalah lingkungan hidup.

Dalam hal ini, SDN Tulungrejo 4 telah menerapkan kebijakan yang mewajibkan setiap siswa tidak boleh membuang sampah sembarangan, bahkan siswa harus sarapan pagi di rumah sehingga tidak membawa bekal makanan ke sekolah, kecuali yang masuk siang. Dibuat peraturan pula bahwa anak-anak yang mampu mengumpulkan plastik bekas makanan sebanyak 10 buah, dapat ditukarkan permen di kantin.

“Dengan kebijakan ini diharapkan siswa berlomba keras untuk memunguti sampah plastik dari makanan yang dimakan sendiri atau yang tercecer di lingkungan sekolah, untuk memperoleh permen,” papar Soepi’i yang mencontohkan pula mengenai peraturan bahwa makanan di kantin harus bebas dari 5 P yaitu bebas pengawet, pewarna, pemutih, pengenyal atau pengeras, serta perasa seperti sari manis.

Ditambahkan Sumarti, semua makanan yang dijual di kantin SDN Tulungrejo 4 kini semuanya cenderung asli dan alami. Bahkan, bakso yang terkenal rawan 5 P tersebut, di kantin sekolah yang rindang dengan pepohonan alami itu telah dinyatakan sehat dan tidak mengandung bahan-bahan 5 P. “Kami bekerja sama dengan wali murid untuk penyediaan kue dan para pedagang bakso untuk tidak menyediakan caos kalau berjualan di sekolah ini,” katanya.

Kedua, pengembangan kurikulum berbasis lingkungan. Indikator ini penilaiannya mencapai 30%. Penyampaian materi lingkungan hidup kepada siswa dapat dilakukan melalui kurikulum secara terintegrasi atau monolitik.

Pengembangan materi, model pembelajaran dan metode belajar yang bervariasi, dilakukan untuk memberikan pemahaman siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan persoalan lingkungan sehari-hari. Pengembangan kurikulum ini dapat dicapai dengan melakukan pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran, penggalian dan pengembangan materi serta persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar, pengembangan metode belajar berbasis lingkungan dan budaya, pengembangan kegiatan kulikuler untuk peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup.

Dalam konsep ini, di SDN Tulungrejo 4 telah diterapkan pendidikan tentang membudidayakan tanaman tamarilo (terong slei) untuk minuman dan ampasnya dibuat slei pada roti tawar. Pendidikan ini dimasukkan kurikulum dan diterapkan siswa di rumah masing-masing.

Ketiga, pengembangan kegiatan berbasis partisipatif. Indikator ini penilaiannya 20%. Dalam hal ini warga sekolah harus dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup. Selain itu, sekolah juga diharapkan melibatkan masyarakat di sekitarnya dalam melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi warga sekolah, masyarakat maupun lingkungannya.

Kegiatan berbasis partisipatif ini adalah menciptakan kegiatan ekstrakulikuler/kulikuler di bidang lingkungan hidup berbasis partisipatif di sekolah, mengikuti aksi kegiatan lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar, membangun dan memprakarsai kemitraan dalam pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

Keempat, pengelolaan dan atau pengembangan sarana pendukung sekolah. Hal ini merupakan indikator penilaiannya mencapai 10%. Pengelolaan dan pengembangan sarana prasarana di sini meliputi, pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah yang ada untuk pendidikan lingkungan hidup, peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar kawasan sekolah, penghematan sumber daya alam (air, listrik) dan ATK, peningkatan kualitas pelayanan makan sehat di kantin sekolah, serta pengembangan sistem pengelolaan sampah.

Tentang indikator ini, SDN Tulungrejo 4 Batu telah membangun green house untuk pembelajaran praktek lingkungan hidup, juga mengalokasikan anggaran program pendidikan adiwiyata dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS).

“Meski belum begitu siknifikan, kami selalu mengganggarkan untuk berbagai kegiatan dalam program adiwiyata,” pungkas Soepi’i yang juga berinovasi dengan menggandeng komite dan mitra pihak ketiga, seperti Kantor Lingkungan Hidup, guna mengembangkan program adiwiyata.

SDN Tulungrejo 4 Batu terus menapak menuju yang terbaik sebagai lembaga pendidikan yang berbasis lingkungan. Namun kreativitas dalam penerapan program adiwiyata juga menjadi prioritas utama guna mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan.

Setidaknya, rajutan kreativitas itu kini mampu menghantarkan SDN Tulungrejo 4 Batu menuai mahkota  adiwiyata dan sebagai top score dalam lomba lingkungan sekolah sehat (UKS) tahun 2010 di Kota Wisata Batu.  [KJPL]





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



Cintai Lingkungan Pasti Lingkungan Cinta Kita

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.